74349_93673_pilot-oleng

Lintas-Surabaya.com – Pilot bernama Tekad Purna Agniamartanto yang diduga mabuk saat akan menerbangkan pesawat dari Bandara Juanda ke Bandara Soekarno-Hatta, diketahui sempat mendapatkan pendidikan pilot di Australia.

Hal ini bisa dilihat dari akun facebook Tekad. Di akun tersebut, Tekad menuliskan kalau dia sempat mengenyam pendidikan di bidang penerbangan, di Moorabin Aviation Services dan Australian National Airline College. Kedua lembaga tersebut berada di Australia.

Tekad Purna merupakan Kapten Pilot Citilink QG 800 rute Jakarta-Surabaya. Pesawat tersebut harusnya terbang pada pukul 05:15 WIB, namun akibat Tekad Purna yang telat datang karena diduga mabuk, pesawat tersebut baru terbang pada 06:20 WIB.

Tekad Purna sempat menyapa penumpang pesawat melalui speaker di pesawat tersebut. Dari nada suara Tekad, penumpang menduga pilot tersebut dalam keadaan tidak prima.

Salah satu penumpang, Hendro T. Subiyantoro, melakukan cuitan atas kondisi pilot tersebut. Dia berujar, suara pilot terdengar melantur saat memberi pengumuman melalui public announcer di dalam kabin pesawat. Akhirnya para penumpang meminta pergantian pilot.

Adapun akibat peristiwa ini Tekad Purna dipecat oleh Citilink. Lalu pada hari Jumat (30/12/2016), Chief Executive Officer PT Citilink Albert Burhan memutuskan mengundurkan diri dari jabatannya. Selain Albert, Direktur Operasional Citilink Hadinoto Soedigno juga ikut mengundurkan diri.

Sementara itu, pengamat penerbangan Alvin Lie mengapresiasi keputusan Albert untuk mengundurkan diri. Menurut dia, hal tersebut bisa menjadi contoh terkait dengan bentuk pertanggungjawaban jika terjadi kesalahan dalam manajemen maskapai. Sebab, mau dikatakan bagaimana pun, Tekad saat penerbangan berhasil menerobos berbagai lapisan pengamanan dan masuk ke kokpit hingga meresahkan penumpang.

Hal itu, lanjut dia, bukan hanya kesalahan Citilink. Menurut dia, petugas keamanan bandara sebenarnya juga berhak menghentikan pilot jika terlihat mencurigakan. Demikian pula kru-kru lain yang melihat sesuatu yang tak beres pada sang kapten pesawat.

“Ini hanya permukaan dari masalah pengamanan yang sesungguhnya. Harusnya Direktorat Jenderal Perhubungan Udara juga bertanggung jawab atas kasus ini. Kalau bisa, ya ikut mengundurkan diri karena banyak juga kasus yang tak tertangani dengan baik di bawah kepemimpinan dia,” imbuhnya.

Alvin juga mempertanyakan sistem rekrutmen yang seharusnya mencegah adanya personel yang punya rekam jejak meragukan. Padahal, Tekad keluar dari perusahaan sebelumnya, AirAsia Indonesia, karena masalah penggunaan zat psikotropika. “Saya heran kenapa mereka masih mau mempekerjakan tanpa mengecek lebih teliti,” ucapnya.

Mengenai hal tersebut, Vice President Human Capital Management Citilink Devina Veryana mengungkapkan, pihaknya memang tidak melakukan background check komprehensif saat mempekerjakan Tekad pada Februari lalu. Dia mengaku melakukan background check dari dokumen yang dibawa Tekad yang berbekal 4.888 jam terbang mengoperasikan pesawat Airbus A320.

Sementara itu, dugaan adanya kelalaian Aviation Security (Avsec) Bandara Juanda, Sidoarjo, juga mendapat perhatian dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Kendati begitu, Kemenhub belum bisa langsung memutuskan apakah yang bersangkutan bersalah atau tidak.