hum_1730

Surabaya – Perkembangan budaya ke arah globalisasi membuat banyak tradisi yang telah dimodifikasi. Termasuk Besutan, teater tradisi yang mengalami distorsi sejak dimainkan oleh remaja agar bisa diterima oleh kalangannya.

Untuk itu, mahasiswa tingkat akhir Program Studi Seni Drama, Tari dan Musik (Sendratasik), Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya (FBS Unesa) kembali mengangkat Besutan untuk tugas akhir mereka.

Mereka yaitu Yusup Eko Nugroho sebagai Sutradara sekaligus aktor dalam teater tradisi asal Jombang ini. Kemudian Muhammad Samsudin Yahya yang memainkan peran sebagai aktor utama si Besutan dan Ferika Ratna Ayu yang mengambil tugas akhir artistik sekaligus aktris dalam teater ini.

Yahya, pemeran Besutan mengungkapkan peraiapan teater ini mereka lakukan selama setahun. Mulai dari wawancara narasumber yang merupakan sumber terdekat dengan cerita Besutan ini hingga belajar dialek yang berneda dengan kesehariannya.

“Saya harus memahami peran dengan bertanya langsung pada sumbernya di Jombang,” ungkapnya pada SURYA.co.id saat mempersiapkan latihan terakhirnya di kampus Unesa Lidah Wetan, Minggu (1/1/2017).

Revisi demi revisi mulai dari pencarian kidung, cara berperan hingga memainkan dialek khas warga Jombang telah ia jalani. Hingga pekan liburan juga harus dihabiskan untuk latihan.

Teater “Besutan Wani” ini menceritakan upaya si Besutan sebgaia pribumi asal Jombang yang memiliki kecerdikan dan kepolosan layaknya Abunawas. Dalam kisahnya Besutan berhasil memakai kecerdikannya untuk mengalahkan lawannya yang merupakan antek Belanda.

Sementara itu, Ucup, sapaan akrab sutradara “Besutan Wani” ini mengungkapkan kesulitan terbesar memang dalam penguasaan dialek oleh 20 aktor yang terlibat dalam teater ini. Apalagi ia tak hanya menghadapi teman kuliahnya, banyak di antara alumnus Sendratari juga terlibat di dalamnya.

“Yang pasti kesulitan dalam mengolah dialog dan dialek dari setiap aktor. Dialek arek yang sangat puitis dibungkus dengan paribasan dan sanepan sangat sulit,” jelasnya.

Pekan libutan selalu diambil untuk pementasan yang terbagi menjadi 3 tahap ini. Besok, Senin (2/1/2017) merupakan pementasan final mereka dari 1 tahun mempelajari Besutan.

“Kami latihan tiap hari Senin sampai Jumat, kalau ambil liburan sekalian memaksimalkan peran. Karena tidak ada beban kuliah atau apa,”ujarnya.

Meskipun cukup sulit, bagi Ucup dan teman-temannya, memainkan teater tradisi merupakan suatu kebanggan. Pasalnya hal ini dapat ditularkan pada generasibmuda untuk kembali mencintai budaya Indonesia.