betoyo-sby

Surabaya – Jalan rusak berlubang di kawasan Desa Betoyo, Manyar, Gresik membuat warga setempat protes. Sebuah pipa gas yang disebut-sebut oleh warga setempat sisa pengerjaan pipa jargas milik PT PGN diangkut oleh warga lalu diletakkan di median Jalan, sejak Minggu (1/1/2017) malam.

Keberadaan pipa di jalan yang menjadi wewenang Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) ini mengakibatkan kemacetan kendaraan semakin menjadi-jadi, apalagi hari ini Selasa (3/1/2017).

Tri seorang warga Kecamatan Sidayu, Gresik yang setiap hari melintasi jalan itu saat berangkat bekerja ke Surabaya mengatakan, penyebab utama kemacetan memang bukan karena keberadaan pipa itu.

Akibat kemacetan yang cukup panjang ini, kata Tri, dia melihat beberapa pelajar SMP di Manyar turun dari angkot, lalu meneruskan perjalanan ke sekolah dengan berjalan kaki. Jarak ke sekolah dari titik mereka turun, menurut perkiraan Tri, masih sekitar satu kilometer.

“Saya yakin mereka pasti terlambat, ini masih jalan kaki. Sudah jam segini,” ujarnya ketika sekitar pukul 08.30 WIB.

Abdul Ghofur, yang tinggal di Desa Bungah, Gresik mengatakan, salah satu pipa sudah dipinggirkan di bahu jalan.

“Barusan lewat Rumah Makan Padang yang ada pipa. Pipanya sudah dipinggirkan di bahu jalan sebelah kanan, jadi enggak nutup jalan. Ada beberapa polisi yang melakukan pengaturan, cuma di pertigaan Betoyo ada satu pipa PGN besar yang posisinya masih di median jalan. Sebenarnya tidak mengganggu badan jalan,” katanya.

Ghofur berpendapat, kondisi di sekitar Jalan Betoyo sudah darurat. Sebab, saat dirinya melintasi jalan itu, pagi ini, tepat di depan mobilnya, ada seorang ibu berpakaian dinas Korpri jatuh saat naik sepeda motor akibat jalan yang rusak.

“Hampir saya tabrak. Itu karena tergelincir jalan yg rusak. Kotor semua bajunya,” katanya.

Pantauan Ghofur, jalan rusak di sepanjang jalur itu mencapai 4-5 kilometer. Mulai dari Jembatan Tanggok sampai Desa Banyuwangi. Terparah, kata Ghofur mengakui, di kawasan Desa Betoyo yang panjangnya antara 1 hingga 2 kilometer. “Berlubang, seperti bumbu pecel,” ujarnya.

Merespon protes warga dan kondisi jalan di Desa Betoyo, Gresik, Abdul Halim Anggota Komisi C DPRD Jatim mengatakan, memang terjadi dilema penanganan jalan di kawasan Manyar. Terutama di kawasan Betoyo.

Dia berjanji akan menindaklanjuti hal ini dengan meneruskan informasi dan permohonan tindaklanjut kepada pemerintah pusat.

“Sebenarnya kami sudah berkoordinasi. Terakhir memang sebulan yang lalu. Tapi sepertinya memang belum ada follow up,” katanya hari ini.

Bahkan, kata Halim, sekitar dua pekan lalu, salah seorang Anggota Komisi D DPRD Jatim dari Dapil Gresik telah turun ke lokasi bersama warga menutup lubang-lubang di jalan itu dengan pasir batu (sirtu). Tapi penambalan ini tidak berlangsung lama, jalan rusak kembali.

Abdul Halim mengatakan, hari ini, Komisi C DPRD Kota Surabaya akan mengagendakan rapat internal khusus pembahasan penanganan jalan-jalan di Jawa Timur yang menjadi kewenangan BPJN yang menuai banyak masalah dan rusak. Terutama jalan rusak di kawasan Betoyo, Kecamatan Manyar.

“InsyaAllah hari ini kami merapatkan. Rapat khusus membahas jalan kewenangan BPJN. Kami akan merekomendasikan, salah satunya, agar sesegera mungkin, kalau perlu hari ini paling lambat besok, sudah ada tindakan oleh Pemerintah Pusat,” katanya.